Tokoh arsitek legendaris yang berpengaruh di tanah air

Weber Indonesia

Ketika Anda mendengar nama arsitek sudah pasti yang terlintas di pikiran Anda adalah seorang yang bekerja mendisain sebuah bangunan. Arsitek, nama jenis profesi ini berasal dari bahasa Latin “architectus”, dan dari bahasa Yunani “architekton” yang berarti master pembangun, arkhi (ketua) serta tekton (pembangun, tukang kayu). 

Dewasa ini, profesi arsitek seringkali diartikan secara sempit sebagai seorang perancang bangunan, atau subyek yang terlibat dalam perencanaan. Definisi tersebut sesungguhnya kurang tepat, karena lingkup pekerjaan seorang arsitek sangat luas mulai dari segi interior ruangan, bangunan, kompleks bangunan, hingga kota dan regional. Karenanya, lebih tepat mendefinisikan arsitek sebagai seorang ahli di bidang ilmu arsitektur, ahli rancang bangun atau lingkungan binaan. Di Indonesia, profesi ini bukan lagi hal baru, bahkan sejak dahulu menjadi perbincangan, diskusi, dan kekaguman.

Lantas, siapa sajakah tokoh arsitek legendaris yang paling berpengaruh di tanah air?

Soekarno

Ingatkah Kawan di mana dulu Bung Karno kuliah? Setelah lulus dari Hoogere  Burgerschool (HBS) Surabaya tahun 1920, Soekarno muda kemudian melanjutkan sekolahnya ke Technische  Hoogeschool Bandung jurusan teknik sipil.

Sedangkan mata kuliah favoritnya adalah menggambar arsitektur. Minatnya ini mungkin dipengaruhi oleh Abikoesno Tjokrosoejoso, seorang arsitek yang memulai karirnya sejak tahun 1921. Selain itu, Soekarno juga berguru arsitek pada C.P Wolff Schoemaker yang sudah menjadi arsitek kondang pada tahun 1922. Kesukaannya menggambar ini juga dipengaruhi oleh hobinya sejak masa sekolah di HBS terhadap dunia seni. Soekarno waktu itu sudah mahir melukis dengan cat air sehingga di masa kuliah ia mendalami minatnya tersebut.

Jejak gagasan arsitektur Soekarno bisa Anda saksikan di Jakarta, seperti Monumen Nasional dan Tugu Nasional,  Masjid Istiqlal, Stadion Gelora Bung Karno, Patung Selamat Datang, Hotel Indonesia, dan Gedung CONEFO. Pembangunan besar-besaran ditandai pada perhelatan Asian Games tahun 1962 yang berlangsung di Jakarta. Berkat  gagasan-gagasan mengenai pembenahan dan pembangunan arsitektur Indonesia, khususnya di Jakarta pasca  kemerdekaan, maka tak perlu ragu lagi bila Anda juga menyebut Soekarno sebagai Bapak Arsitektur Indonesia.

Friedrich Silaban

Lahir di Bonandolok, Sumatera Utara, 16 Desember 1912, karya-karya Frederich banyak menghiasi pemandangan Ibu Kota hingga saat ini. Mulai dari Monumen Nasional, Gelora Senayan, dan yang paling membanggakan adalah Masjid Istiqlal.

Ia menyelesaikan pendidikannya formal di H.I.S Norumonda, Tapanuli 1927, Koningen Wilhelmina School (K.W.S) di Jakarta pada 1931, dan Academic van Bouwkunst Amsterdam, Belanda pada 1950. Dari karyanya, Frederich banyak memperoleh penghargaan, baik dari dalam maupun luar negeri. Salah satunya tanda kehormatan Satya Lencana Pembangunan yang diberikan oleh Presiden Soekarno pada 1962.

Y.B Mangunwijaya

Dalam arsitektur, beliau juga kerap dijuluki sebagai bapak arsitektur modern Indonesia. Salah satu penghargaan yang pernah diterimanya adalah penghargaan Aga Khan untuk arsitektur, yang merupakan penghargaan tertinggi karya arsitektural di dunia berkembang untuk rancangan pemukiman di tepi Kali Code Yogyakarta.

Dalam bidang arsitektur, Mangunwijaya memiliki kecenderungan bermain dengan warna, ruang, dan suasana. Hal ini menjadikan karya-karyanya dipenuhi dengan ungkapan bentuk yang beraneka ragam sehingga tampil unik.

Achmad Noeman

Sosoknya dikenal sebagai maestro arsitektur masjid di Indonesia. Sudah banyak karyanya seperti Masjid Salman ITB, Masjid Amir Hamzah, Masjid at-Tin, Masjid Islamic Center, Masjid Soeharto di Bosnia, dan Masjid Syekh  Yusug di Cape Town, Afrika Selatan.

Namun, dari sejumlah karyanya, masjid Salman di ITB merupakan karya yang melambungkan namanya karena masjid tersebut dirancang tanpa kubah. Dia merupakan salah satu pendiri IAI (Ikatan Arsitek Indonesia).

Soejodi Wirjoatmodjo

Namanya mungkin tidak terlalu dikenal, namun salah satu karyanya yang dikenal seluruh Indonesia adalah gedung MPR-DPR di Senayan. Tahun-tahun hidupnya di Eropa mempengaruhi Soejoedi dalam mendesain bangunan. Salah satu yang menginspirasinya adalah arsitek asal Swedia, Ralph Erskine. Karyanya yang pertama adalah kafe restoran Braga Permai yang pernah dinamai Maison Bogerijen. Bentuk awalnya mirip vila Eropa yang ditandai dengan atap curam empat sisi yang disebut mansard.

Han Awal

Merupakan arsitek yang ikut berkontribusi dalam pembangunan Gedung Arsip Nasional (pemugaran). Dalam kariernya, Han dikenal sebagai arsitek pemugaran bangunan-bangunan itu, karya pemugaranya meliputi Gereja Katedral Jakarta, Gedung Arsip, Gedung Bank Indonesia Jakarta Kota, dan Gereja Immanuel.

Prestasinya dalam merancang bangunan membuahkan penghargaan Internasional Award of Excellence UNESCO Asia Pasific Heritage untuk Bangunan Museum Arsip Nasional.

  • Memilih arsitek ibarat mengajak seseorang untuk menempuh perjalanan panjang bersama Anda. Perlu ada kepercayaan, empati, kesamaan visi, komunikasi yang baik, dan saling menghormati. Apresiasi besar harus kita tunjukan kepada para arsitek dengan cara merawat serta menjaga bangunan bersejarah yang telah mereka bangun di Indonesia sehingga karya besar para arsitek tetap bisa anak cucu kita nikamti sebagai salah satu peninggalan bersejarah.

     

     

    Sumber :

    https://idea.grid.id/read/09700180/ini-dia-5-tokoh-arsitektur-indonesia-yang-kamu-wajib-tahu

    https://economy.okezone.com/read/2017/02/21/470/1624028/yuk-kenali-bapak-arsitektur-indonesia

    https://www.goodnewsfromindonesia.id/2017/03/31/inilah-bapak-arsitektur-indonesia

    https://beritabaik.id/read?editorialSlug=indonesia-baik&slug=1553053841920-5-tokoh-arsitektur-indonesia-yang-perlu-kamu-tahu

    https://www.arsitektur.asia/berita-arsitektur/5-arsitek-paling-berpengaruh-di-indonesia.